Reka Ulang Geliat Radikalisme dan Separatisme di Indonesia

0
183

Judul Buku      : Menakar NKRI Bubar

Penulis             : Ahmad Khoiri, dkk  

Penerbit           : Jakarta, Pustaka

Cetakan           : I Januari 2021

Tebal               : xvi + 292 halaman

ISBN               : 978-623-93356-5-6

Peresensi        :Rifqi As’adi*

Polemik radikalisme dan separatisme di Indonesia akhir-akhir ini semakin mengkhawatirkan. Banyak kerusuhan yang berujung terorisme, didalangi oleh dua masalah itu. Seperti teror bom gereja Oikumene di Samarinda (2016), gereja Santo Yosep di Medan (2016). Sementara di Jakarta juga terjadi peledakan bom yaitu Bom Thamrin (2016) dan Bom Kampung Melayu (2017). Sedang peristiwa terakhir adalah bom yang terjadi di tiga gereja di Surabaya (2018) dan juga Polresta Surabaya (2018).

Buku karangan Ahmad Khoiri dkk ini menakar bagaimana situasi akhir yang penuh dengan persoalan. Jika tidak segera diatasi akan semakin membuat jurang menganga. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Jacques Derrida-Par Impossible-marilah kita mulai dari yang tak mungkin. Jadi apapun bisa terjadi diluar kemungkinan-kemungkinan. Begitu pula dengan bubarnya NKRI.

Tesis yang penulis bangun dalam buku ini adalah bagaimana jika NKRI itu bubar dengan bercermin pada negara-negara bubar seperti Dinasti Usmani (yang runtuh akibat tak adanya pemimpin yang tangguh, krisis persatuan, krisis ekonomi, disintegrasi), Uni Soviet, Yugoslavia, Vietnam Selatan, Libya, Mesir, Irak, Suriah, dan Yaman.

            Secara umum buku ini terbagi menjadi empat bab penting. Bab pertama, menjelaskan fenomena kerawanan NKRI seperti radikalisme dan separatisme. Radikalisme diwarnai dengan Populisme Islam, Pertarungan Ideologi dan Islam Politik sedangkan separatisme dapat terbaca pada konflik Papua, gerakan Aceh, Republik Maluku dan gerakan Minahasa.

Radikalisme yang terlibat dalam populisme Islam misalnya terlihat pada aksi 212 hingga berujungnya Ahok dipenjara. Dalam pertarungan ideologi misalnya termanifestasi berbagai gejolak orang yang membangun ideologi  tersendiri semisal Forum Pembela Islam (FPI), Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), Jamaah Ansharud Daulah (JAD), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Mujahidin Indonesia Timur (MIT)  dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) (Hal: 24). Islam dan politik juga pada akhirnya mengalami radikalisme. Sebab bukan lagi Islam yang ramah yang ditampakkan. Namun, Islam yang pemula dengan kepentingan politik-elektoral.

            Separatisme di Indonesia yang  terjadi semisal di Papua-Organisasi Papua Merdeka (OPM), Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Republik Maluku dan gerakan Minahasa. Sedangkan berbagai potensi Indonesia bubar terlihat pada gejolak pemekaran wilayah yakni perluasan wilayah secara administratif menjadi distrik, Kabupaten atau Provinsi baru. Demokrasi terlihat akhir-akhir ini semakin tumpang tindih sebab demokrasi hanya permainan politik belaka. Geliat khilafah juga semakin memanas pasca bubarnya dua ormas besar seperti HTI 2017 dan FPI 2020. Bisa saja Rizieq Shihab yang ditangkap polisi sebagai pimpinan FPI, tapi antek-anteknya tetap memanas dan semakin besar. Dari itu kemudian dilihat bahwa gerogotan terhadap pancasila  masih bercokol. NKRI bersyariah masih berdengung juga hari ini pasca sejarah dulu pada waktu berdirinya NKRI.

            Bagian terakhir dari bab ini membahas geliat-geliat separatis. Hal itu bermula dari intervensi negara-negara tetangga dan bantuan Internasional. Masuknya TKA (Tenaga Kerja Asing) juga menjadi momok di Indonesia.

            Pada bagian akhir buku ini mengurai optimisme menuju Indonesia maju dengan memanfaatkan potensi yang ada seperti meneguhkan pilar kebangsaan (Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika), optimalisasi SDM, eksploitasi SDA, ekonomi, investasi dan moderasi beragama.

            Dari segi SDM, Indonesia terlihat dari data terakhir ada peningkatan dari 2010 hingga 2018, rata-rata berada di angka 0,85% (hal: 196). Hal ini misalnya dikembangkan pada penurunan angka stutingnya, pemerataan pendidikan, pembangunan dan pemberdayaan gender, pemberdayaan masyarakat miskin dan keluarga harapan, serta pengembangan riset dan teknologi.

            Pada solusi yang terakhir juga, yaitu menguatkan moderasi beragama melalui jalur deradikalisasi untuk memaksimalkan 2030 Indonesia emas yang akan selamat dari ancaman kehancuran dan perpecahan (hal: 276). Maka, moderasi beragama menjadi hal penting utuk menjadi pegangan masyarakat Indonesia untuk mencegah ancaman radikalisasi.

            Masukan untuk buku ini, sebagaimana disampaikan oleh yang M. Syauqillah pada peluncuran buku ini-bahwa di dalam buku ini tidak dijelaskan bagaimana peran media sosial terutama peran media digital mempengaruhi para radikalis-separatis untuk membangun jejaring dengan kelompoknya. Jahatnya dunia cyber menjadi peluang dan juga perhatian tersendiri di tengah mudahnya era teknologi untuk menggait massa.

            Tak ada gading yang tak retak begitu pula dengan buku ini. Banyak kesalahan ketik di beberapa halaman menjadi kerja berat bagi editor untuk cetakan-cetakan selanjutnya. Meski demikian, buku ini penting dibaca untuk meneroka berbagai ancaman dan antisipasi pada bubarnya negara Indonesia. Buku ini juga menawarkan beberapa solusi bagaimana menghadapi tantangan-tantangan bagi persatuan bangsa yang telah digagas dalam buku ini. Wallahu A’lam.


*mahasiswa Instika, pengurus PC JQH-NU Sumenep, Ketua LPTQ Annuqayah, alumni PP. Nurul Iman

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak