Reorientasi Pendidikan Moral di Pesantren

0
56

Judul Buku          : 7 Jurus Betah di Pesantren

Penulis                 : Saeful Bahri

Penerbit               : Republika

Tebal                    : XIV+ 200 Halaman

Cetakan               : 2019

 

Pondok pesantren merupakan lembaga keagamaan dan kemasyarakatan kebudayaan yang takkan terhapus dari imunitas sejarahnya. Karena pesantren tercatat dalam sejarah sebagai lembaga yang turut andil dalam membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Eksistensi pesantren yang sampai saat ini masih ada terbukti bahwa pendidikan pesantren masih tetap survive dengan kebutuhan masyarakat dan  zamannya. Meski dinamika sosial dan zaman berubah sedemikian deras bagaikan aliran air dari Muara ke Hilir. Tetapi dengan tantangan itulah pesantren tetap tegak berdiri bahkan dari generasi ke generasi berikutnya pesantren malah mendominasi pendidikan di Indonesia. Tercatat sejak tahun 1999, pesantren terhitung hampir 10.000,tapi kini jumlah pesantren mendekati 30.000 yang kesemuanya itu milik swasta (kompas, 16 mei 2017).

Mulai sejak berdirinya pesantren dipercaya sebagai agent of change, agent of social control dan agen of knowledge, simbol itulah merupakan suatu kepercayan masyarakat yang tak luput disandangkan oleh masyarakat terhadap pesantren sebagai institusi keagamaan yang akan mencetak kader-kader ulama yang tafaqquh fi ad-din yang akan menghiasi wilayah Nusantara ini semisal: KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur), KH. As’ad Syamsul Arifin, KH. Hasyim Asy’ari dan sebagainya.

 Sisi unik yang sampai saat ini melekat dalam eksistensinya yaitu sistem pengajarannya yang menurut Susmianto yang juga mengutip dari Imam Zarkasyi bahwa pengajaran di pondok pesantren selalu berorientasi pada panca jiwanya yaitu keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiyah dan kebebasan (Imam Zarkasyi, 2011, 12) Pada panca jiwa itulah kemudian akan lahir pendidikan yang berbasis akhlaq mulia ala Rasulullah semisal kejujuran, tanggung jawab, disiplin, mandiri, berani, kebersamaan dan keadilan.

Sosok sekaliber Nurchalish  Masjid saja pernah mengatakan bahwa seandainya tidak ada pesantren, boleh jadi bangsa ini takkan pernah mengenal islam atau dalam premisnya bahwa seandainya tidak ada penjajahan, besar kemungkinan  pola pesantren akan menjadi pendidikan resmi (nasional formal) di Tanah air. Inilah bukti bahwa sistem pendidikan di pesantren berdiri sendiri meski tanpa bantuan pemerintah dan benar-benar berjihad untuk membentuk anak bangsa yang cerdas dan mandiri. Namun dari keterbelakangan itu , akhir-akhir ini pesantren banyak mulai dikagumi oleh pemerintah. Setidaknya dengan terbitnya salah satu buku karangan Abdulloh Hamid, M.Pd berjudul “Pendidikan Karakter Berbasis pesantren ” terbukti kekhalayak umum bahwa gagasan itu terbukukan selain dari ide-ide pemerintah dan diketahui secara meluas akan ide pendidikan yang baru akan mulai digarap.

Selain itu, kira-kira kenapa pemerintah baru sekarang meminati pendidikan pesantren? Apakah mulai dulu tidak tahu jika di Indonesia ada pesantren? Bukankah pesantren sudah dikenal ketika agama islam masuk di indonesia. Pendapat ini didasarkan pada anggapan sejarah yang mengasumsikan bahwa model pendidikan pondok pesantren hampir sama dengan pendidikan agama Hindu-Budha dan dengan itu pendidikan karakter mulai dulu telah berjalan seiring berdirinya.

Nah, dari ini kita tahu bahwa pendidikan di pesantren tak jauh-jauh amat dari konsep pendidikan K. Hajar Dewantara bahwa pendidikan pesantren yaitu berpusat pada niteni (menelaah), nimokke (menemukan) dan nirokke (menirukan). Nah dengan konsep ini kemudian para santri bisa membentuk pola prilaku kesehariannya, baik dengan pembelajaran kitab-kitab kuning yang dipelajari di pesantren maupun pendidikan yang timbul dari elaborasi nirokke yang timbul dari hasratnya terhadap sesuatu yang telah dilihatnya dari seseorang yang dinilainya memiliki otoritas yang lebih tinggi dari dirinya semisal kiai, guru ngaji di pesantren, pengurus pesantren, maupun para santri yang ia kagumi dan tokoh masyarakat secara umum

Konsep pendidikan ala K. Hajar Dewantara diatas, terasa sekali ketika para santri belajar-mengajar kitab kuning yang diajarkan di pesantren dan menjadi sikap sehari-hari para santri yang melakat pada jiwanya. Para santri selalu bersikap nirokke terhadap apa saja yang dianggap baik dan cocok. Hal ini dalam apa saja selama tidak melanggar dalam koridor agama Islam semisal kaum santri melihat temannya memakai baju muslim ia juga ingin memakainya.

Dengan demikian buku ini menjelaskan bagaimana para santri betah dan kerasan di pesantren. Pola-pola hidup sederhana dan penuh dengan kesulitan diubah menjadi sebuah tantangan, semisal ngantri untuk mandi, menanak, makan, mencuci dan semacamnya. Semua itu dikerjakan oleh santri dengan sikap bahagia dan penuh harap akan mengalirnya barokah dari sang kiai. Dengan itu buku ini cocok dibaca para santri maupun orang yang ingin mengenal dunia pesantren. Selebihnya, selamat membaca.


Rifqi As’adi, Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika).

NB: Resensi ini dimuat di Koran Jawa Pos Radar Madura 

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak