Rutinitas Persi Berjalan dengan Penuh Semangat

0
282

Penyisir Sastra Iksabad (Persi) melaksanakan rutinitas malam seninan di Kampus Instika pada Minggu (04/09). Biasanya, dalam rutinitas tersebut diisi dengan tadarus puisi, mengarang puisi, kajian tokoh, dan peradilan puisi. Namun pada waktu itu, hanya diisi dengan tadarus puisi dan peradilan puisi.

Malam itu, puisi yang diadili adalah karya anggota baru Persi. Tepat pada pukul 21:30 rutinitas itu dimulai dengan dibuka oleh Budi Hartono. Sebelum melaksanakan peradilan puisi, forum terlebih dahulu mempersilakan kepada seluruh anggota untuk membaca puisi. Setelah dirasa cukup pembacaan puisi, baru dimulai peradilan puisi yang langsung dipimpin langsung oleh pembuka. Ada 3 puisi dengan 3 pengarang yang diadili pada malam tersebut.

Satu persatu anggota pun mulai berkomentar mengenai puisi tersebut. Seiring dengan larutnya malam komentar para anggota pun mulai hangat dan pedas kepada penulis. Akan tetapi, dalam kritikan tersebut tidak lantas mengendurkan atau menjatuhkan kepada penulis, karena selain mengkritik juga diberi arahan dan diberi solusi setiap ada celah dalam tulisan itu kepada penulis.

Rutinitas malam itu pun terasa berbeda dengan malam-malam sebelumnya, karena Ketua Ikstida, Subaidi Barma, juga turut  hadir dalam rutinitas tersebut. Malam semakin larut tanpa dirasa, namun kepuasan masih belum tampak dari masing-masing anggota. Hal itu dirasakan pula oleh Medan Readi, salah satu senior Persi. Karenanya, ia berharap agar ada tindak  lanjut dari malam itu, yakni keesokan malamnya harus berkumpul lagi. Seluruh anggota pun dengan serempak menyetujui pernyataan tersebut.

Akhirnya, rutinitas itu pun diakhiri dengan pembacaan hamdalah.


Penulis: Nur Mahmudi

Editor  : Abd. Muqsith

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak