Serba-Serbi Kesalahan Guru

0
72
Koran Radar Madura Edisi Kamis 30 Juli 2020 M.

Oleh: M. Nurul Hasan*

Judul                   : 101 Kesalahan Guru dalam Pembelajaran

Penulis               : Erwin Widiasworo, S.Pd

Penerbit             : Araska Publisher

Tahun Terbit      : Januari, 2020

Tebal                  : 252 Halaman

ISBN                   : 978-623-7537-41-0

Dalam dunia pendidikan, ada seseorang yang mempunyai pekerjaan yang sangat sentral dan  penentu laju arah bangsa, tentu pekerjaan seperti ini bukan perkara mudah untuk dijalani, karena problem-problem yang dihadapi tidak hanya satu, melainkan jamak. Rasa bosan, mungkin tidak akan lepas menjadi sahabat setia disetiap perjalanannya. Inilah mengapa seorang guru layak mendapatkan penghormatan yang baik.  Akan tetapi ada hal-hal yang sangat tidak boleh dilewati, seperti yang terurai dalam buku ini.

Ketika melakukan pekerjaan atau aktivitas, seorang guru akan mempersiapkan banyak keperluan dengan optimal. Mulai dari berbagai segi harus benar-benar matang, misal hal yang paling urgen, kecerdasan, interaksi sosial dan etika/akhlak dari seorang guru. Karena pada dasarya, seorang guru akan selalu  menjadi rujukan bagi murid sampai kapanpun, lebih-lebih ketika berada di dalam kelas saat melakukan pembeajaran, guru harus menjaga semua keburukannya atau aibnya.

Akan tetapi, untuk zaman sekarang ini, banyak seorang guru yang kadang tidak serius dalam menyampaikan materi pembelajaran atau lebih senang dengan celoteh ringan di dalam kelas. Tentu ini adalah kesalahan yang sangat merugikan murid-murid, sebab waktu belajar setiap materi berkisaran 1 atau 2 jam. Setidaknya, dengan waktu yang sangat terbatas itu, seorang guru harus menyiapkan semua kebutuhan demi kenyamanan bersama. Kecakapan dalam interaksi sosial, menjadi hal yang fundamen untuk dikokohkan agar menemukan relasi yang baik antara guru dan murid.

Inilah mengapa, seorang guru tidak harus bisa dalam segi intelektual, segi moral harus lebih disentralkan. Karena etika atau moral sangat penting untuk menjalani keidupan bermasyarakat, kelak. Oleh kerena itu, prestasi akademik tidak terlalu menjadi prioritas jika tujuan dari pembelajaran akan diterapkan di masyarakat. Sebab di masyarakat, orang-orang tidak membutuhkan kecerdasan, melainkan yang dibutuhkan adalah akhlak. Dalam persepsi orang-orang yang bermasyarakat, ahklak lebih utama dari pada kecerdasan atau wawasan.

 Dalam berpenampilan sorang guru sangat dituntut untuk menjaganya.  Karena jika tidak, misal penamapilan sorang guru tidak sesuai dengan standart peratuaran keguruan, secara langsung ataupun tidak langsung, murid akan meniru atau menjadikan cermin. Sebab, apa yang dilakukan seorang guru dalam pikiran murid semuanya benar, sehingga akan berdampak pada psikologi murid. Jangan heran bila murid tidak sesuai juga dengan kode etik seorang murid dalam berpakain.

Dari hal kecilpun, seorang guru harus mengontrolnya dengan bijak, karena jika tidak, sekali lagi, akan memengaruhi psikkologi murid. Misalnya dari gaya sepatu yang tampak menor, menggunakan hak yang tingginya 5 sampai 10 cm, tentu sepatu seperti ini tidak layak untuk digunakan ketika pembelajaran, karena derap langkah yang dihasilkan hampir sama dengan langkah kaki kuda. Contoh yang lain, seorang menggunakan sepatu sport, karena memang keren dan elegan. Cuma jika bukan guru olahraga, tentu tidak singkron. Untuk seorang guru standartnya mengunakan sepatu pantofel. Jika guru saja dalam mengunakan sepatu tidak sesuai dengan prosedur, bagaimana dengan peserta didiknya? (Hal.25)

Bukan hanya itu saja kegagalan yang terjadi selama proses pembelajaran antara guru dan murid. Seperti proses penentralisiran ilmu juga kadang menjadi kendala yang kerap mendatangi  sebab bila cara mengajar seorang guru menoton tentu bosan menjadi sahabat paling setia. Karena dengan begitu pembelajaran seperti ini harus segera dihindarkan, sebab tidak sesuai dengan kehendak setiap murid.

Dalam proses pembelajaran, setidaknya guru harus mempersiapkan metode belajar yang nantinya ketika diterapkan membuat murid aktif dan di sinilah tuntutan guru agar berpikir kritis dan kreatif. Karena pada hakikatnya—dalam konteks pembelajaran—keberhasilan guru berada di ranah ini. Dengan berkontribusi aktifnya murid, akan memudahkan seorang guru untuk mentransfer  ilmu yang akan disampaikan, tapi jika sebaliknya?

Oleh karenanya, untuk mencapai target ini, seorang guru harus benar-benar kreatif dan inovatif agar selama pembelajaran dalam kelas tidak menoton. Untuk itu ketika ingin memulai pelajaran setidaknya guru menyampaikan sub-sub yang akan dibahas, atau bisa juga dengan membuka dengan memukau dan memotivasi peserta didik dan menutup pembelajaran dengan penegasan materi. (Hal.123)

Di samping itu, ada hal yang sangat dilarang dilakukan oleh seorang guru, seperti pengucilan seorang murid karena sebab-sebab tertentu, karena jika ini terjadi maka akan memengaruhi psikologi murid yang bersangkutan. Bukan hanya itu, seorang guru menjadi tameng bagi murid yang katakanlah dibuli oleh teman kelas. Sebab dampak hari ini akan sangat berbahaya bagi keberlangsungan proses pendidikan murid tersebut.

Disinilah mengapa seorang guru memiliki peran yang sangat sentral dalam pembelajaran seorang murid. Maka dari itu, guru harus memiliki idiologi yang kritis dalam mengayomi murid-muridnya. Sehingga tidak salah jika seorang guru menyandang seseorang yang istimewa atau mulia di muka bumi, yaitu digugu dan ditiru. Tuntutan seorang guru ada pada kepiawaian dan kewibawaan karena hal ini sangat menentukan bagaimana proses pembelajaran berlangsung, serta keberhasilan proses pembelajaran tersebut baik di sekolah maupun di luar sekolah. (Hal.238)

Menjadi seorang guru memang tidaklah mudah, karena seorang guru harus bisa memahami karakter setiap murid. Di samping itu, seorang guru juga bertambah berat ketika harus mempunyai murid yang (katakanlah) nakal. Seorang guru tidak boleh menggunakan kekerasan dalam hal ini, kesabaran menjadi jalan yang harus ditempuh demi kemaslahatan bersama, kerena implikasinya akan berimbas pada bangsa dan agama. 

Dalam buku ini, penulis mengurai detail kesalah seorang guru selama pemebalajaran. Sehingga buku ini sangat baik bagi guru yang temperamental-lan, agar ketika bertemu dengan problem murid seperti di atas tidak serta merta ngegas atau naik pitam. Dan setiap permasalahan yang penulis uraikan di buku ini, juga disertai beberapa solusi yang mungkin bisa mengatasi permasalahan dalam mengatasi seorang murid atau selama proses belajar. 


*Penulis adalah Pengurus Perpustakaan PP. Annuqayah daerah Lubangsa.

NB : Resensi ini dimuat di Radar Madura Edisi Kamis, 30 Juli 2020 M. 

 

 

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak