Tertawa Ala Para Sufi

0
54
Bukti Terbit Resensi Santri PP. Annuqayah Lubangsa di Koran Jawa Pos Radar Madura.

Judul Buku           : Mati Ketawa  Cara Salafi

Penulis                 : M. Quraish Shihab

Penerbit               : Lentera Hati

Tebal                    : 140 Halaman

Cetakan                : Juli 2019

 Seorang yang sangat sempura dalam kehidupannya selalu bahagia. Salah satu  cara untuk bahagia itu adalah dengan tertawa. Tertawa merupakan refleksi tersendiri atas kebahagiaan. Secara psikologis  nampak dari tertawa akan memberikan keceriaan bagi orang yang melakukan. Hal itu trbukti melalai raut wajah yang  nampak senang  dan bahagia.

Dalam buku ini, merupakan refleksi ketawa ala salafi. Yaitu sebuah ketawa untuk menertawakan diri sendiri, seperti tertawanya Gus Dur yang polos sehingga banyak disenangi beda dengan tertawa dengan tujuan politik da sebagainya yang hanya pura-pura sebagai hiasan wajah saja.

Buku ini merupakan sari pati dari  berbagai kitab yaitu kitab Al-Hamqa wa al-Mughaffilin karya Ibnu al-Jauzi (abad ke-6 Hijriah atau ke-13  Masehi), Akhbar al-Adzkiya dan Tadzkirul al-Auliya karangan Fariruddin Attar.

Semua kitab yang disarikan itu merupakan ketawa ala orang-orang dungu. Bahkan diantara berbagai ceritanya bagaimana orang dungu. Bagaimana orang itu akan menjadi seseorang yang menertawakan diri sendiri.

 Seperti humor  pada pengantar seperti seorang lelaki sedang dalm kondisi sakratul maut. Ada yang menasihati agar dia mendampingi suaminya itu. Istrinya menjawab “tapi aku khawatir malikat Maut  akan mengenaliku”.

Cerita  lain misalnya seorang a’raby (orang pedalaman) berdo’a,”ya tuhan, Ampunilah aku; aku saja, jangan yang lain.” Dia kemudian ditanya  kenapa berdo’a denikian. Kenapa meminta tuhan mengampuni dia seorang, padahal ampunan tuhan maha luas.”aku enggak mau nyusahin Tuhan” katanya.

 Dalam redaksi cerita  lainnya  juga, konon Isa putra Maryam pernah ditanya-tanya.”denger-denger tuan bisa menghidupkan orang mati” “ benar”. Dengan izin Allah”. “Denger-denger bisa enyembuhkan kebutaan?” “benar juga. Dengan izin Allah”. “Kalau menyembuhkan kedunguan” “nah itu yang susah”.

 Semua cerita yag dikutip diatas merupakan ketawa ala salafi. Sebenarnya masih banyak cerita lain tapi tdak dikutip sebab tulisan pendek ini. Sebenarnya alasan-alasan ketawa ala salafi ini menemukan memuntum ketika membaca karya para ulama semisal al-Ghazali, al-Jauzi dan Imam Syafi’i.

 Seperti misalnya ketika para Said Aqil Siradj ketua PBNU mengucapkan bahwa orang yang panjang jenggotnya adalah orang yang dungu kemungkinan ia sering membaca kita turats. Jadi sebagai orang yang moderat dalam islam kita jangan langsung mengecap ia ortodoks dan fanatik. Semua itu merupakan pristiwa dalam  cerita yang bertajuk “jenggot dan kedunguan” merupakn cerita ulama-ulama klasik yang telah dinukil dan terus dibaca oleh generasi muslim seanjutnya.

Jadi ketawa ala salafi ini bukan berisi humor, lelucon dan anekdot yang tak bermakna. Semua  cerita yang termaktub  semuanya merupakan ketawa yang memilki  nilai yang sangat tinggi bagaimana cerita itu bisa tak terulang kembali  dan bagaimana kita menertawakan sikap diri sendiri yang “ dungu”.

*Rifqi As’adi, Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA).

NB: Resensi ini dimuat di Koran Jawa Pos Radar Madura 

 

Silahkan Berkomentar Di Sini Secara Bijak