BPBA Bahasa Inggris Gelar Simposium Mading agar Berita Tak Asal Jadi
549 View
Lubangsa_Salah satu prinsip Simposium Majalah Dinding (Mading) BPBA Bidang Bahasa Inggris adalah berita tidak boleh asal jadi. Prinsip itu lahir dari kegelisahan Ahmad Zaki Yamani yang melihat banyak santri mulai menulis, tetapi belum memahami dasar-dasar jurnalistik. Akibatnya, tulisan kerap hanya menjadi rangkaian informasi tanpa kaidah dan arah yang jelas.
Kegelisahan itu kemudian diwujudkan melalui Simposium Mading yang digelar di Kantor Biro Pengembangan Bahasa Asing (BPBA) Bidang Bahasa Inggris pada Sabtu (18/7/2026) malam. Berbeda dari biasanya, BPBA yang identik dengan pembelajaran grammar—tata bahasa—kali ini mengajak anggotanya membahas teknik kepenulisan jurnalistik. Bahkan, untuk pertama kalinya, mereka menghadirkan seorang alumni BPBA yang kini aktif di Kantor Media dan Penerbitan Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa sebagai pemateri.
Bagi Zaki, kegiatan tersebut bukan sekadar memenuhi program kerja Divisi Publication. Sebagai santri yang menempuh pendidikan di Jurusan Komunikasi Universitas Annuqayah, ia memandang kemampuan menulis perlu dibangun di atas pemahaman jurnalistik, bukan sekadar kemampuan merangkai kalimat.
"Kami ingin anggota memahami jurnalistik agar tulisan yang dibuat tidak asal jadi," katanya.
Menurutnya, kemampuan tata bahasa memang jadi identitas BPBA Bahasa Inggris. Namun, kemampuan itu belum cukup jika tidak disertai pemahaman mengenai cara menyusun berita, memilih fakta, dan menyampaikan informasi secara runtut kepada pembaca.
Karena itu, ia sengaja mengundang alumni BPBA. Pengalaman praktis di dunia jurnalistik dinilai lebih dekat dengan kebutuhan anggota yang akan mengelola mading.
Langkah tersebut bukan tanpa alasan. Zaki mengingat masa ketika BPBA dikenal memiliki tradisi menulis yang kuat. Banyak alumninya aktif menghasilkan karya tulis sebelum akhirnya budaya itu perlahan meredup seiring pergantian generasi.
Simposium dan penerbitan mading menjadi ikhtiar untuk menghidupkan kembali semangat tersebut. Program yang akan berlangsung selama satu periode kepengurusan itu dirancang agar anggota memiliki ruang belajar sekaligus ruang berekspresi melalui tulisan.
Pengurus Divisi Publication, Risqi Nashrillah, mengatakan mading akan diterbitkan setiap dua pekan sebagai media belajar bersama. Menurutnya, kehadiran pengurus Media dan Penerbitan bertujuan memberikan fondasi kepenulisan kepada anggota sejak awal.
"Kami ingin anggota memahami sistematika penulisan yang baik sebelum mulai mengelola mading," ujarnya.
Mading yang akan lahir dari kamar BPBA bukan semata-mata papan tempel berisi informasi. Ia diharapkan menjadi ruang latihan berpikir kritis, mengolah gagasan, sekaligus membangun kembali budaya literasi yang pernah menjadi kebanggaan BPBA. Sebab, bagi Zaki, sebuah berita yang baik tidak lahir dari kemampuan menulis semata, melainkan dari pemahaman tentang bagaimana sebuah informasi dipertanggungjawabkan kepada pembacanya.
| Penulis | : Farhan Amin |
| Editor | : Moh. Zainur Rozy |