Renovasi Arena Bulu Tangkis Dilakukan Gotong Royong
189 View
Lubangsa_Lapangan bulu tangkis di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa tengah menjalani renovasi untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan para santri saat berolahraga. Renovasi dimulai pada akhir Juli 2026 setelah melalui tahap perencanaan dan persiapan material.
Salah seorang penggerak renovasi, Moh. Nawafil, menjelaskan bahwa perbaikan dilakukan karena kondisi lapangan sudah tidak layak digunakan. Selain permukaan lapangan yang retak dan tidak rata, menurut santri Blok C/04 itu, posisi lapangan yang terlalu dekat dengan area jemuran membuat ruang bermain menjadi sempit, sehingga membatasi pergerakan pemain.
"Awalnya kami hanya berencana menambal bagian lapangan yang berlubang. Namun, setelah berdiskusi, kami sepakat menggeser posisi lapangan sedikit ke arah utara agar jaraknya lebih jauh dari area jemuran dan pemain bisa bergerak lebih leluasa," ujar Nawafil.
Renovasi meliputi perbaikan permukaan lapangan, pembenahan sistem drainase, penataan area sekitar, serta penggeseran posisi lapangan agar lebih proporsional. Pembenahan drainase juga menjadi perhatian utama karena selama ini genangan air sering muncul saat hujan dan membuat lapangan tidak dapat digunakan.
Menurut santri asal Gapura itu, pengerjaan renovasi ditargetkan selesai dalam waktu sekitar tiga hari. Namun, penyelesaiannya tetap bergantung pada ketersediaan dana, kelengkapan material, serta kondisi cuaca. "Alhamdulillah, selama hari-hari awal pengerjaan cuaca cukup mendukung sehingga pekerjaan bisa berjalan lancar," katanya.
Berbeda dengan proyek pembangunan pada umumnya, renovasi lapangan ini tidak menggunakan anggaran dari pengurus pesantren. Seluruh biaya diperoleh melalui swadaya anggota klub bulu tangkis dan klub bola takraw. Sementara itu, proses pengerjaan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan para anggota kedua klub, meskipun mayoritas tenaga berasal dari klub bulu tangkis.
Kendala terbesar yang dihadapi selama renovasi ialah keterbatasan dana. Karena mengandalkan sumbangan sukarela para anggota, proses pembelian material harus disesuaikan dengan dana yang tersedia itupun masih kurang sumbangan dari anak anak klub.
Ia juga berharap kekompakan yang ditunjukkan anggota klub bulu tangkis dan klub takraw dapat menjadi contoh bagi komunitas olahraga lainnya di lingkungan pesantren. Menurutnya, dukungan dan arahan dari pengurus terhadap klub-klub olahraga juga diperlukan agar pembinaan dapat berjalan lebih baik.
Dengan kondisi lapangan yang lebih representatif, Nawafil optimistis berbagai kegiatan olahraga, mulai dari latihan rutin hingga perlombaan antarasrama maupun antarlembaga, dapat diselenggarakan secara lebih maksimal.
Ke depan, penggunaan lapangan akan disertai sejumlah aturan, yakni menjaga kebersihan dan pemeliharaan fasilitas.
"Saya berharap seluruh santri memiliki rasa memiliki terhadap fasilitas ini. Jagalah lapangan sebagaimana milik bersama agar dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu yang panjang," tutur Nawafil.
Ia menambahkan bahwa pengembangan fasilitas olahraga di pesantren diharapkan terus berlanjut secara bertahap sesuai kebutuhan dan kemampuan yang ada.
"Lapangan ini dibangun untuk kepentingan seluruh santri. Karena itu, manfaatkan dengan sebaik-baiknya, gunakan secara bertanggung jawab, serta jaga kebersihan dan keutuhannya. Semoga lapangan ini menjadi tempat untuk membangun sportivitas, kedisiplinan, kebersamaan, dan semangat hidup sehat di lingkungan pesantren," pungkasnya.
| Penulis | : Moh. Nurul Mukhlishin |
| Editor | : Tim Pers Lubangsa |