Tertawa di Tengah Lumpur: Pelajaran Menulis dari Selokan
297 View
Lubangsa_Jumat pagi, 5 Juni, suasana di kawasan barat Masjid Jamik Annuqayah berjalan seperti biasa. Kicauan burung saling bersahutan dari pepohonan yang menaungi lingkungan pesantren. Dari seberang jalan, tepatnya dari arah asrama putri, suara para santri putri terdengar bercampur dengan rutinitas pagi.
Ada yang bernyanyi kecil sambil menyapu halaman. Ada yang memanggil temannya dengan suara keras dari balik jendela. Ada pula yang meminta tolong mengambilkan barang yang tertinggal.
Di sela-sela aktivitas itu, beberapa santri putri tampak sesekali melirik ke arah timur melalui celah pagar. Tak jauh dari sana, sejumlah santri putra yang sedang bekerja juga beberapa kali mengangkat kepala dan membalas pandangan sekilas. Namun setelah itu mereka kembali berpura-pura sibuk, seolah tidak terjadi apa-apa.
Di sisi selatan masjid, suara kok bulu tangkis yang dipukul bergantian terdengar nyaring memecah pagi. Sementara di antara Masjid dan Asrama santri putri, sekelompok santri dari bidang pers Lubangsa diantaranya Koran Lubangsa, Buletin Kompak dan Majalah Muara justru memulai pekerjaan yang jauh dari kata nyaman.
Mereka membersihkan selokan.
Bukan karena airnya berhenti mengalir. Air masih mengalir sebagaimana mestinya. Namun berbagai jenis sampah yang tersangkut membuat aliran tersendat dan menahan sampah-sampah lain yang datang dari hulu.
Air berwarna hitam pekat bergerak perlahan di antara tumpukan sampah. Bau menyengat sesekali menyeruak ketika endapan lumpur dikeruk menggunakan cangkul.
Di dalam saluran itu terdapat berbagai benda yang tidak semestinya berada di sana.
Softek.
Sabun dan perlengkapan mandi.
Kerudung.
Celana dalam.
Bra.
Uang receh seribu rupiah.
Serta berbagai sampah lain yang telah bercampur dengan lumpur dan kotoran manusia.
Sebagian kotoran bahkan telah berubah menjadi gumpalan lembek setelah bercampur dengan air dalam waktu lama.
Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin cukup untuk membuat mereka menutup hidung atau menjauh. Namun tidak bagi Moh. Zainur Rozy.
Head of Content (HOC) Penerbitan Lubangsa itu justru terlihat santai selama proses pembersihan berlangsung.
"Saya sudah biasa," katanya singkat.
Pengalaman itu bukan kali pertama baginya. Saat masih menjadi anggota Satgas Pandemi, ia pernah terlibat membersihkan saluran yang sama. Selain itu, keterlibatannya dalam Club Pencinta Alam (CPA) Lubangsa membuat pekerjaan lapangan semacam itu bukan sesuatu yang asing.
Awalnya dia menggunakan alat seadanya untuk mengangkat sampah yang menyumbat saluran. Namun karena endapan lumpur dan sampah cukup tebal, dia kemudian menggunakan cangkul agar pekerjaan lebih cepat.
Setiap kali cangkul menghantam dasar selokan, benda-benda aneh bermunculan.
Ada satu temuan yang paling sering membuat Jejen (panggilannya, red) tersenyum.
Sendok.
Entah bagaimana caranya, sendok-sendok itu muncul dari dasar selokan seperti harta karun yang tersesat.
Setiap kali menemukan satu sendok, Jejen langsung melemparkannya keluar dari saluran untuk dikumpulkan.
Lalu beberapa menit kemudian muncul lagi sendok yang lain.
Dilempar lagi.
Muncul lagi.
Begitu terus sepanjang proses pembersihan.
"Kalau dihitung-hitung mungkin sudah cukup banyak, cukup untuk ditukar di pegadaian" ujarnya sambil tertawa.
Di tengah kesibukan mengangkat sampah itulah sebuah kejadian mengundang gelak tawa.
Farhan Amin, Pimpinan Redaksi Koran Lubangsa yang ikut membersihkan selokan, tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Tubuhnya masuk ke area yang dipenuhi lumpur dan air hitam.
Bukannya mendapat pertolongan pertama yang dramatis sebagaimana dalam film-film, insiden itu justru disambut ledakan tawa dari teman-temannya.
Suasana yang sejak awal dipenuhi candaan spontan semakin riuh.
Farhan menjadi bahan olok-olok sepanjang pagi.
Meski demikian, kejadian itu justru menjadi salah satu momen yang paling diingat oleh peserta kerja bakti hari itu.
Bagi Jejen, ada hal lain yang membuat kegiatan tersebut terasa lebih berharga daripada sekadar membersihkan selokan.
Hari itu bukan hanya santri yang pernah membersihkan selokan.
Para wartawan dan jurnalis Lubangsa juga ikut turun langsung ke lapangan.
Mereka tidak hanya mencatat atau mengambil gambar dari kejauhan. Mereka ikut mengangkat sampah, mencangkul lumpur, mencium bau selokan, dan merasakan sendiri kondisi yang nantinya akan dituliskan menjadi berita.
Menurut Jejen, pengalaman semacam itu penting bagi seorang jurnalis.
Menulis tidak cukup hanya berdasarkan cerita orang lain.
Ada banyak hal yang hanya bisa dipahami ketika seseorang benar-benar berada di lokasi kejadian.
Bau lumpur yang menyengat.
Warna air yang menghitam.
Suara tawa yang muncul di tengah pekerjaan kotor.
Atau bahkan sendok-sendok misterius yang terus bermunculan dari dasar selokan.
Semua detail itu tidak akan ditemukan jika wartawan hanya datang untuk wawancara lalu pulang.
"Kita jadi belajar bagaimana mengeksplorasi sebuah peristiwa ketika menulis berita," katanya.
Menjelang siang, tumpukan sampah yang semula memenuhi saluran mulai berkurang. Air mengalir lebih lancar dari sebelumnya.
Di atas selokan, kehidupan pesantren kembali berjalan dengan ritmenya.
Suara bulu tangkis masih memantul dari sisi selatan Masjid Jamik Annuqayah. Dari balik asrama putri, beberapa santri melantunkan lagu “ada titik-titik di ujung doa...doa" yang sesekali terdengar terbawa angin pagi.
Sementara itu, di tepi selokan yang mulai bersih, para santri menatap hasil kerja mereka. Lumpur masih menempel di kaki dan pakaian, tetapi pagi itu meninggalkan sesuatu yang lebih berharga daripada saluran air yang kembali lancar. Mereka belajar bahwa cerita tidak selalu ditemukan dari balik layar komputer atau tumpukan catatan wawancara. Kadang-kadang, cerita terbaik justru muncul ketika seseorang turun langsung ke lapangan, merasakan sendiri keadaan yang ditulisnya, dan menjadi bagian dari peristiwa yang ia kisahkan.
| Penulis | : Farhan Amin |
| Editor | : Pers Lubangsa |